Selasa, 06 November 2012

PONPES AL-FATAH MENJADI SATU KEKUATAN DUNIA



Pondok Pesantren Al-Fatah terus melesat laksana roket. Bukan hanya sebagai pusat pendidikan Islam, tapi juga menjadi pusat perjuangan Islam dalam menghadapi musuh Islam dan dunia, yaitu Zionis Yahudi. Dahsyatnya pengaruh Global March to Jerusalem (GMJ) dalam menekan Israel dan kuatnya gaung Konferensi Internasional  untuk Pembebasan Al-Aqsha dan Palestina di Bandung dalam merangkul  persatuan para tokoh internasional, tak lepas dari peran besar Ponpes Al-Fatah. Dan dua langkah besar terakhir yang dijalankan Ponpes Al-Fatah adalah pengiriman 21 mujahid bersama Mer-C ke Gaza dan didirikannya kantor berita Islam Mi’raj News Agency (MINA) kelas internasional.

Membicarakan Ponpes Al-Fatah, berarti membicarakan satu jaringan pondok pesantren di Indonesia. Ponpes Al-Fatah berpusat di Jl. Pasirangin Cileungsi, Bogor. Memiliki 20 cabang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
                                          
Sosok Al-Fatah

Nama Al-Fatah berasal dari nama Wali Al-Fatah. Wali Al-Fatah adalah seorang Muslim dan bergelar Akademis Doktor di bidang Politik. Nama Wali Al-Fatah tidak begitu dikenal dalam sejarah Indonesia namun beliau termasuk pendiri Partai Politik Masyumi yang didirikan pada tanggal 7 November 1945, bersama Mr. Kasman Singodimedjo dan beberapa tokoh ormas Islam lainnya. Dalam Kepengurusan Partai Masyumi beliau menjabat sebagai Ketua Muda II. Nama beliau dapat dilihat dalam buku Biografi K.H. Hasyim Asyharie dalam susunan Kepengurusan Partai Masyumi.

Dengan latar belakang Akademisnya tersebut, Presiden Soekarno mengangkatnya menjadi Kepala Biro Politik (Bukan Badan Inteli
gen) dibawah Departemen Dalam Negeri. Nama pemberian orang tua kepada beliau ketika lahir, sebenarnya bukan Wali Al-Fatah, namun ketika beliau masih kecil, seorang Ulama yang mengetahui bahwa beliau masih keturunan Raden Fatah yang menjadi Sultan Demak pertama, putra Syeikh Maulana Malik Ibrahim yaitu guru para Wali di Nusantara, maka Ulama tersebut mengganti namanya dengan nama Wali Al-Fatah.
Setelah menjadi Kepala Biro Politik, Wali Al-Fatah mendapat keterangan dari beberapa Ulama yang beliau kenal, diantaranya K.H. Maksum dari Muhamadiyah, bahwa sunnah dalam menegakkan Islam itu adalah Jama'ah Imaamah, maka beliaupun menyadari bahwa Politik bukanlah jalan untuk menegakkan dinul Islam.
Karena telah jelas bagaimana sunnah dalam menegakkan Islam, yaitu dengan sunnah Jama'ah Imaamah, maka Wali Al-Fatah berupaya menyampaikan hal ini kepada kaum muslimin, baik ulama, zuama maupun umat muslim lainnya dengan mengadakan Kongres Muslimin. Kongres Muslimin yang pertama dilaksanakan di Medan pada tahun 1950. Kongres Muslimin yang kedua dilaksanakan di Masjid Agung Sunda Kelapa - Tanjung Priok - Jakarta pada tahun 1952. Kongres Muslimin yang ketiga dilaksanakan di gedung Bapenas Jl. Untung Surapati-Jakarta pada tahun 1953.

Pada kongres Muslimin yang ketiga inilah muncul sembilan orang yang membenarkan apa yang diserukan oleh Wali Al-Fatah bagaimana sunnah dalam menegakkan Islam di muka bumi ini. Dengan keyakinan bahwa hal itu harus segera diamalkan maka sembilan orang tersebut meminta kesediaan Wali Al-Fatah untuk menjadi Imam. Dengan halus Wali Al-Fatah menolaknya dan mengembalikan kepada sembilan orang tersebut mungkin ada yang bersedia untuk menjadi Imaam. Namun tidak satupun diantara mereka yang bersedia dan mereka kembali meminta Wali Al-Fatah agar bersedia menjadi Imam. Sekali lagi Wali Al-Fatah menolak dengan alasan bahwa diantara mereka ada ulama, diantaranya yaitu adalah K.H
. Maksum maka beliau meminta kepada ulama yang ada tersebut agar bersedia untuk menjadi Imam. Akan tetapi tidak ada dari ulama tersebut yang bersedia menjadi Imam bahkan mereka mengatakan bahwa Ilmu yang mereka miliki adalah untuk menguatkan kepemimpinan Wali Al-Fatah.

Dengan rasa tanggung jawab terhadap Islam dan muslimin, maka akhirnya Wali Al-Fatah menerima amanat
sebagai imam. Setelah sekian lama perjuangan menyampaikan syari’at berjama’ah, maka pada tahun 1976 mulailah dirintis pembangunan pondok pesantren pertama di sebuah hutan di Natar, Lampung. Pada  tahun ini pula, Wali Al-Fatah wafat. Maka sesuai syari’at Islam, kepemimpinan beliau selaku Imam bagi kaum Muslimin harus ada yang menempati sebagai pemimpin. Maka amanat itu diberikan kepada Muhyidin Hamidi. Dan ponpes yang dibangun pun diberi nama Al-Fatah, nama Imam Jama’ah Muslimin yang pertama.

Al-Fatah Ponpes Dalam Hutan
 
Ponpes Al-Fatah Lampung, yang terkenal dengan sebutan Muhajirun, dibangun di daerah tengah hutan. Pembangunan itu adalah perjuangan yang sangat berat dan penuh tantangan yang sampai beresiko kepada ancaman nyawa. Beberapa tokoh yang berjuang diantaranya: Ustadz Saefuddin (Alm.), Ustadz Abul Hidayat Soeradji, Ustadz Adjie Muslim, dan beberapa orang lainnya. Selain harus berjuang menaklukkan hutan dan para penghuni liarnya, ponpes Al-Fatah juga harus meluruskan dugaan salah dari masyarakat  wilayah terdekat. Bahkan dari aparat keamanan. Puncak ujian bagi ponpes Al-Fatah Lampung adalah ketika pasukan TNI Danrem 034 Garuda Hitam pimpinan Letkol A.M. Hendropriyono melakukan pengepungan, lengkap dengan helikopternya. Hal itu akibat fitnah yang disebarkan oleh orang-orang tertentu dengan tuduhan:  Al-Fatah bagian dari Jamaah Warsidi. Tapi kesalahan itu bisa diluruskan.
Pada tahun 1979, giliran hutan perkebunan di Cileungsi Bogor yang digarap menjadi pondok pesantren. Saat itu, harga tanah di Jakarta yang terbilang mahal memaksa Imam kedua, Muhyidin Hamidi mencari tanah yang murah. Maka didapatilah tanah dengan harga Rp. 500,-/meter2 seluas 2,3 ha. Berbeda dengan di Lampung, pembangunan ponpes di Cileungsi hanya bertantangan dengan medan.



Modal Awal dari 70 Orang
 
Tanah seluas 2,3 ha di Cileungsi harus dibebaskan. Atas komando Imam Muhyidin Hamidi, maka terdapatlah 70 orang yang mensodaqahkan uangnya untuk membebaskan tanah di dalam hutan tersebut. Medan berat dan kondisi yang terbatas menjadi cerita perjuangan pendirian Al-fatah Cileungsi. Sebutlah tentang jalan setapak yang licin berlumpur tak bersahabat. Atau banyaknya ular-ular penghuni lahan. Ditambah lokasi yang jauh dari kendaraan. Dan berbagai cerita getir perjuangan lainnya.
 
Orang yang pertama kali bermukim di tanah yang dikelilingi banyak pepohonan dan semak belukar itu adalah Ustadz Adjie Muslim pada tahun 1980, setelah berdirinya sebuah masjid berukuran 6m X 7m. Saat itu rumah Imam Muhyidin Hamidi masih dalam tahap pembangunan. Uniknya, tim pekerja adalah orang-orang yang berasal dari Tanjung Priok yang selalu datang di hari Sabtu dan Minggu.  Mereka datang semata-mata untuk beramal saleh. Hari Sabtu mereka mengadakan pengajian dan di hari Minggunya mereka bekerja membangun dan membereskan lahan. Jika harus menginap, para pekerja memilih menginap di perkampungan yang berjarak sekitar 200 meter dari lahan.
Barulah pada tahun 1984, Ustadz Abul Hidayat Soeradjie datang dan ikut bertempat di ponpes Al-Fatah, setelah ponpes tersebut mulai ditinggali beberapa orang.


Fase-Fase Pertumbuhan Al-Fatah Pusat

 
Berawal dengan pengajian-pengajian yang mengundang dan melibatkan warga kampung, mulailah didirikan Madrasah Ibdtidaiyah. Selanjutnya  pada tahun 1986 menyusul didirikan Madrasah Tsanawiyah. Barulah pada tahun 2000 tingkat Aliyah diadakan. Menyusul Sekolah Tinggi Agama Islam beberapa tahun kemudian. 
 
Meskipun Al-Fatah Lampung adalah yang pertama, tapi seiring perkembangannya, Al-Fatah Cileungsi ditetapkan sebagai markas pusat Jama’ah Muslimin sekaligus Al-Fatah pusat.
Al-Fatah Cileungsi pertama dipimpin oleh Ustadz Abul Hidayat, kemudian digantikan oleh Ustadz Abu Nida, terakhir  dipimpin oleh Ustadz Drs. Yakhsyallah Mansur,M.A hingga sekarang.
Semenjak Jama’ah Muslimin memaklumatkan Ghazwah Fath Al-Aqsha pada tahun 2006, intensitas tamu mancanegara yang mengunjungi ponpes Al-Fatah Cileungsi dan Lampung meningkat jumlahnya. Terlebih-lebih ketika  menjelang diadakannya acara-acara besar dalam bentuk seminar, konferensi, dan tablig akbar berkelas internasional. Dan pelajar yang belajar di ponpes ini ada juga yang berasal dari luar negeri seperti: Malaysia, Filiphina, China, dan Uganda.
Bukan hanya memberi kontribusi yang sangat baik terhadap masyarakat sekitar dalam hal pendidikan, Al-Fatah juga telah menjadi satu kekuatan perjuangan umat Islam yang cukup diperhitungkan. (Abu Dzakir)

Catatan: Silahkan dikoreksi jika ada kesalahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar