Selasa, 16 Oktober 2012

MENOLAK IMAMAH LEBIH SELAMAT?

Imam al Ghazali menyatakan dlm Iqtishad fil i'tiqad:

اَلنَّظَرُ فِي اْلإِمَامَةِ لَيْسَ مِنَ الْمُهِمَّاتِ، وَلَيْسَ أَيْضاً مِنْ فَنِّ الْمَعْقُوْلاَتِ، فِيْهَا بَلْ مِنَ الْفِقْهِيَّاتِ، ثُمَّ إِنَّهَا مَثَارٌ لِلتَّعَصُّبَاتِ، وَالْمُعْرِضُ عَنِ الْخَوْضِ فِيْهَا أَسْلَمُ مِنَ الْخَائِضِ، بَلْ وَإِنْ أَصَابَ، فَكَيْفَ إِذَا أَخْطَأَ.

Kajian tentang imamah bukan termasuk hal yang penting. Ia juga bukan termasuk bagian studi ilmu rasional, akan tetapi termasuk bagian dari ilmu fiqih. Kemudian masalah imamah berpotensi melahirkan sikap fanatik. Orang yang menghindar dari menyelami soal imamah LEBIH SELAMAT daripada yang menyelaminya, meskipun ia menyelaminya dengan benar, dan APALAGI KETIKA SALAH dalam menyelaminya.


  • Cpt. Ranger Biar salah yg penting kilapah
  • Yusha An-Nabhany maaf..ngutipnya yang lengkap ya..jangan dipotong..

  • Muhammad Zakir tolong dilengkapi kroco nabhani, biar nggak asbun

  • Yusha An-Nabhany @zakir, ap tdk ad kata yg lbh ahsan

    "kroco"

    mskpun d Dunia Maya, ALLAH myaksikan yg qt perbuat.
  • mgnai kutipan d atas, biar yg m0sting dlu yg mjelaskan.
    bgian mana yg dp0t0ng.
    atw hny c0pas-mgmbil yg co2k2 sj.
  • kutipan d atas, biar yg m0sting dlu yg mjelaskan.
    bgian mana yg dp0t0ng.
    atw hny c0pas-mgmbil yg co2k2 sj.
  • Hening Swara kebiasaan kaum nabhanian yg blm berubah, tuduh dulu terus kabur kiki

  • Cpt. Ranger Kan yg penting kilapah

  • Ridho Pembela Tarbiyah khilaf............ah
  • Riza Masih Zamzami sampai sekarang tuduhan hadis palsu ke saya belum terjawab dan pertanyaan anggota2 HT yg bertahun2 kerja di BANK juga belum mereka keluarkan.. smile
  • Muhammad Mahfuddin Al Fatih khilafah tetap system yg terbaik daripada system demokerasi dan yg lainnya...
  • Ridho Pembela Tarbiyah sebenarnya sistem demokrasi yang telah diberi spirit Rabbaniyyah dan diisi dengan nilai-nilai religiusitas, dapat digunakan sebagai sarana yang efektif untuk Iqamatud-Daulah al-Islamiyyah dalam dakwah, apabila kita bijak menyikapinya.
  • Muhammad Mahfuddin Al Fatih apalagi system khilafah, tentu lebih baik daripada demokerasi..
  • Ridho Pembela Tarbiyah Muhammad Mahfuddin Al Fatih..klau sistem khilafah lebih baik dari semua sistem kok bisa hancur yah..??
  • Muhammad Mahfuddin Al Fatih hancurnya khilafah bukan berarti demokerasi itu lebih baik.. apalagi yg namnya makhluk tak ada yg abadi... jgn terjebak sikap pragmatis..
  • Ridho Pembela Tarbiyah Muhammad Mahfuddin Al Fatih..ha ha ha hancurnya bertanda suatu sistem apapun yg di terapkan mau khilafah kek demokrasi kek semua itu tergantung dari sdm yg menjalankan sistem tersebut...
  • Muhammad Mahfuddin Al Fatih haha..masih pragmatis juga.. ingat! lingkungan santri/pesantren itu lebih baik daripada lingkungan para preman..
  • Ridho Pembela Tarbiyah Muhammad Mahfuddin Al Fatih.... Benarkah umat islam tidak akan maju kecuali dengan khilafah? secara sepontan saya nyatakan "ini tidak benar dan saya menolak argumen itu". Bagi saya pribadi, umat islam masa lalu maju bukan atas dasar khilafah, khilafah hanyalah buah hasil dari perjalanan panjang sejarah. Dalam perjalanan sirah nabawiyah hal yang pertama dibangun bukanlah khilafah, tapi mental lahiriyah-batiniyah. Gemblengan selama 13 tahun di Mekkah dan periode awal Madinah adalah gambaran jelas struktur pembangunan ummat.
  • .Akhlak yang mulia adalah inti sebuah peradaban, peradaban tanpa akhlak adalah penghancuran. Saat ini yang terpenting bagi kita adalah membangun pondasi dasar, bukan atap nan jauh di langit. Pondasi yang kuat akan melahirkan bangunan yang kuat dan tangguh dan begitupun sebaliknya. Umat muslim hendaknya melihat permasalahan pada intinya, bukan pada fenomena luar. Demontrasi menyangkut di terapkannya syariat perlu, akan tetapi membangun strategi, langkah-langkah kedepan, jauh lebih perlu.

  • Muhammad Mahfuddin Al Fatih maju dlm apa nech!! substansi system khilafah adalah menerapkan syariat islam dan mendakwahkan ke seluruh penjuru dunia.. saya juga akan katakan bahwa tak ada negara demokerasi yg menerapkan syariat islam secara kaffah dan mendakwahkan islam ke penjuru dunia... dan selama kurun yg anda sebutkan tidak ada satupun yg menerangkan system demokerasi.. baik masa Rosul maupun masa sesudahnya..
  • Ridho Pembela Tarbiyah Muhammad Mahfuddin Al Fatih...baca comen saya sebelumnya dgn baik dan dgn hati yg jernih dulu yah..
  • Muhammad Mahfuddin Al Fatih tak ada pemisahan dari semuanya..
  • Hening Swara Ulama sekaliber al ghazali sj memilih menghindari pembahasan ini, beda dgn kaum nabhanian yg belum fasih baca al Quran tp sdh sok tau kiki
  • Mustanir Abu Zafir Nurmayaherba mulai ghibah murahan deh...hening dah punya syahadah qiroaty belum yaaach..he


  • Cpt. Ranger Awas jangan over dosis obat herbal nanti khilaf ah
  • Muhammad Mahfuddin Al Fatih yg pasti imam Ghozali tak pernah menolak khilafah islamiyah...
  • Ulama Khilafah Hening Swara: Gak ada yg mau membahas topik ini? kok pd nyabab
    ....................................
    Ada mas, al-faqir siap meladeni anda. Namun spt biasa, al-faqir akan siapkan terlebih dahulu segala sesuatunya. Tunggu saja ya dg sabar.. kiki
  • Hening Swara Nyabab aja dulu kiki

  • Muhammad Mahfuddin Al Fatih nyimak maqola syaikh hening sworo ah...
  • Hening Swara Ghazali benar, ternyata pengikut sekte khilafah banyak yg gak selamat aqidah maupun akalnya kiki
  • Muhammad Mahfuddin Al Fatih Ghazali yg di nasakh oleh syaikh hening..kiki
  • Hening Swara mulai deh nyabab lagi kiki
    Jgn2 arti nasakh juga gak ngerti karena kebiasaan asbun (nyabab) kiki

  • Muhammad Mahfuddin Al Fatih qola hening swara:......
  • Riza Masih Zamzami AQIDAH

    Di bidang akidah, BARISAN SAKIT HT cenderung berpaham Qodariyah, paham yang menganggap manusia bisa menentukan sendiri keinginannya tanpa terikat ketentuan Allah. Berikut beberapa buktinya:

    1. Dalam kitab As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Al qadha’ wal qodar (cet. Darul Ummah hal 94-95) Taqiyuddin berkata:

    «وهذه الأفعال ـ أي أفعال الإنسان ـ لا دخل لها بالقضاء ولا دخل للقضاء بها، لأن الإنسان هو الذي قام بها بإرادته واختياره، وعلى ذلك فإن الأفعال الاختيارية لا تدخل تحت القضاء» اهـ الشخصية الإسلامية الجزء الأول باب القضاء والقدر: ص94 ـ 95

    “Segala perbuatan manusia tidak terkait dengan Qadla (kepastian) Allah. Karena setiap manusia dapat menentukan kemauan dan keinginannya sendiri. Maka semua perbuatan yang mengandung unsur kesengajaan dan kehendak manusia tidak masuk dalam Qadla.”

    1. Pada As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Alhuda wad Dlolal (cet. Darul Ummah hal 98) penulis menyatakan

    «فتعليق المثوبة أو العقوبة بالهدى والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل الإنسان وليسا من الله» اهـ (الشخصية الإسلامية الجزء الأول : باب الهدى والضلال ص 98)

    “Jadi mengaitkan adanya pahala sebagai balasan bagi kebaikan dan siksa sebagai balasan dari kesesatan, menunjukkan bahwa petunjuk dan kesesatan adalah murni perbuatan manusia itu sendiri, bukan berasal dari Allah.”

    Ini jelas pendapat kaum Qodariyah yang menyimpang dari ajaran ahlussunnah wal jamaah karena bertentangan dengan ayat Al-Qur’an dan Hadits. Allah berfirman
    وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

    “Allah menciptakan kalian dan Allah menciptakan perbuatan kalian” (QS As Shaffat :96)

    Ibn Abbas RA berkata :
    «إن كلام القدرية كفر»

    “Sesungguhnya perkataan kaum Qodariyah adalah kufur”.

    Bisa juga maksud Ibn Abbas dengan “kufur” di sini sebagai ‘warning’ bahwa hal itu mengarah pada kekafiran. Namun yang jelas mereka adalah ahli bid’ah.

    Diriwayatkan pula dari Umar bin Abdul Aziz, Imam Malik bin Anas dan Imam Awza’i :
    «انهم يستتابون فإن تابوا وإلا قُتلوا»

    “Sesungguhnya mereka (kaum Qodariyah ) diminta untuk bertaubat, jika menolak maka mereka dibunuh.”

    Ma’mar meriwayatkan dari Towus, dari bapaknya. Bahwa seseorang berkata kepada Ibnu Abbas: “Banyak orang mengatakan perbuatan buruk bukanlah qodar (kepastian) Allah SWT,” maka Ibnu Abbas menjawab: “Yang membedakan aku dan pengikut Qodariyah adalah Ayat ini:
    قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ -الأنعام/149

    “Katakan! Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat, maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya. “QS.Al-An’am: 149.”

    Tak cukup itu, BARISAN SAKIT HIzbut Tahrir malah menuduh ahlussunnah sama dengan kelompok sesat Jabariyyah, tanpa menyertakan bukti yang memadai. Taqiyuddin menyatakan dalam kitab As-Syakhsiyyah Al-Islamiyah juz 1 hal. 73:
    والحقيقة هو ان رأيهم _ اي اهل السنة_ورأي الجبرية واحد فهم جبريون

    Pada hakikatnya, pendapat mereka – ahlussunnah wal jama’ah – dan pendapat jabariyah adalah satu, maka mereka adalah termasuk kelompok jabariyah”.

    SYARIAH

    Di bidang syari’ah, HTI tidak mau terikat kepada salah satu dari madzhab empat – Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali – dan lebih mendahulukan ijtihad mereka sendiri, mereka juga tidak mengakui ijma’ sebagai dasar hukum selain ijma’ sahabat. Berikut beberapa contoh fatwa nyleneh mereka.

    Dalam kitab mereka, At-Tafkir hal. 149
    متى أصبح قادرًا على الاستنباط فإنه حينئذ يكون مجتهدًا، ولذلك فإن الاستنباط أو الاجتهاد ممكن لجميع الناس، وميسر لجميع الناس ولا سيما بعد أن أصبح بين أيدي الناس كتب في اللغة العربية والشرع الإسلامي ، – كتاب التفكير ص/149

    ” Sesungguhnya apabila seseorang mampu menggali hukum dari sumbernya, maka telah menjadi mujtahid. Oleh karenanya, maka menggali hukum atau ijtihad dimungkinkan bagi siapa pun, dan mudah bagi siapa pun, apalagi setelah mempunyai kitab lughot ( tata bahasa arab ) dan fiqh islam.”

    Perkataan ini mengesankan terbukanya kemungkinan untuk berijtihad meskipun dengan modal pengetahuan yang sedikit.

    DIALOG

    Pada tanggal 23 – Sya’ban -1428H/ 5 – September – 2007M, beberapa pengurus PCNU kab. Pasuruan dan Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf selaku musytasyar PCNU Kab.Pasuruan berdialog dengan salah satu tokoh DPP HTI mewakili DPP HTI, di PP. Sunniyah Salafiyah Kraton, setelah membuat janji terlebih dahulu dengan DPP HTI. Dalam dialog tersebut jelas sekali perbedaan faham antara ahlussunnah wal jamaah dengan HTI, khususnya terkait masalah qodho’ dan qodar,

    Tokoh HTI ini berterus terang mengakui secara lisan bahwa HTI memang tidak mengikuti rumusan Imam Asy’ari dan Imam Maturidi sebagaimana dianut ahlussunnah wal jama’ah. Rekaman dialog terdokumentasi dengan baik di Sunniyah Salafiyah

    Alhasil, Hizbut Tahrir nyata-nyata berseberangan dengan Ahlussunnah. Pun demikian ini hanyalah sedikit dari penyimpangan mereka, masih banyak fakta-fakta yang belum terungkap.
  • Hening Swara Sdh kukatakan, ini kukutip ulang kiki
    Ghazali benar, ternyata pengikut sekte khilafah banyak yg gak selamat aqidah maupun akalnya kiki
    Kelihatannya sdh bisa disepakati kiki
  • Muhammad Mahfuddin Al Fatih hanya org bodoh yg mau dibodohi kutipan syekh Hening cipta, eh Hening Swara...tongue
  • Kasman Akka atau Muhammad Mahfuddin Al Fatih yg terlalu bodoh utk memahami kutipan mas hening??? who knows kiki

  • Firdaus Adnan Prawirodirjo Waah... Cak Hening Swara sudah turun gunung. Gelar sajadah aah...

  • Empu Gandring El Masih ndak komentar? Penting lho...

  • Mustanir Abu Zafir Nurmayaherba sudah dibahas dalam kitab daulah karya syekh taqi dibagian awal...hening baca gak ya..
  • Hening Swara Memang sengaja kukutip krn di sini banyak orang bodoh dari sekte khilafah kiki
  • El Masih Hening Swara , sebaiknya anda juga melirik penegasan Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali yg tersebut pula dalam Al-Iqtishâd fî Al-I’tiqâd :

    ونقول : نظام أمر الدين مقصود لصاحب الشرع عليه السلام قطعاً ، وهذه مقدمة قطعية لا يتصور النزاع فيها ، ونضيف إليها مقدمة أخرى وهو أنه لا يحصل نظام الدين إلا بإمام مطاع فيحصل من المقدمتين صحة الدعوى وهو وجوب نصب الإمام . فإن قيل : المقدمة الأخيرة غير مسلمة وهو أن نظام الدين لا يحصل إلا بإمام مطاع ، فدلوا عليها . فنقول : البرهان عيه أن نظام الدين لا يحصل إلا بنظام الدنيا ، ونظام الدنيا لا يحصل إلا بإمام مطاع » . (الاقتصاد في الاعتقاد لأبي حامد الغزالي ج: 1 ص: 75)

    Dan juga penegasan beliau dalam kitabnya Al-Wasîth :

    القضاء والقيام بمصالح المسلمين والإنتصاف للمظلومين من أفضل القربات وهو من فروض الكفايات وهو أفضل من الجهاد وأهم منه لأن الجهاد لطلب الزيادة والقضاء لحفظ الموجود . (الوسيط – ج 7 / ص 287)


    Hehe .. Tentunya Imam yang ahli memecahkan persoalan sekelas Hujjatul Islam Al-Ghazaly takkan mungkin menampilkan penegasan yang bertolak belakang ...

    Jadi, bukan penegasan beliau yg mesti dibenturkan dgn penegasan yg lain, melainkan tafsiran sepintas lalu dan sekenanya yg dirangkaikan kpd pernyataan beliau sehingga terjadi distorsi atau bahkan manipulasi pemahaman ....

  • Nach, mari kita pampangkan sepenggal perkataan Al-Ghazaly yg anda kutip utk selanjutnya kita beri kesimpulan pasti yg semestinya :

    اَلنَّظَرُ فِي اْلإِمَامَةِ لَيْسَ مِنَ الْمُهِمَّاتِ، وَلَيْسَ أَيْضاً مِنْ فَنِّ الْمَعْقُوْلاَتِ، فِيْهَا بَلْ مِنَ الْفِقْهِيَّاتِ، ثُمَّ إِنَّهَا مَثَارٌ لِلتَّعَصُّبَاتِ، وَالْمُعْرِضُ عَنِ الْخَوْضِ فِيْهَا أَسْلَمُ مِنَ الْخَائِضِ، بَلْ وَإِنْ أَصَابَ، فَكَيْفَ إِذَا أَخْطَأَ.

    Terjemah kutipan anda : "Kajian tentang imamah bukan termasuk hal yang terpenting. Ia juga bukan termasuk bagian studi ilmu rasional, akan tetapi termasuk bagian dari ilmu fiqih. Kemudian masalah imamah berpotensi melahirkan sikap fanatik. Orang yang menghindar dari menyelami soal imamah lebih selamat dari pada yang menyelaminya, meskipun ia menyelaminya dengan benar, dan apalagi ketika salah dalam menyelaminya".

    Al-Ghazaly berkata sedemikian bukan bermaksud mengingkari kewajiban berkhilafah , melainkan hanya sekedar meluruskan pemahaman Syiah yg mendudukan perkara Imamah sbg perkara Ushuludin ( Aqidah ) dengan menganggap kepatuhan kpd Imam sbg bagian dari rukun Iman , padahal bukan .....

    Perkataan Al-Ghazaly itu tentu tak ubahnya perkataan At Taftazani berikut ini :|

    "Imamah bukan termasuk Ushuluddin dan akidah, berbeda dengan Syi'ah. Akan tetapi ia menurut kita (Ahlusunnah) termasuk furuu' yang terkait dengan tindakan para mukallaf, sebab pengangkatan imamah menurut kita wajib atas umat berdasarkan dalil naqli… . " ( Syarh al-Mawaqif, 8\344 )

    Nach, Al-Ghazaly dalam hal ini tak beda dgn At Taftazani dimana kedua pemuka ulama Ahlussunnah tsb tetap meyakini Imamah sebagai kewajiban agama, hanya saja kewajiban ini tidak tergolong sebagai bagian dari perkara AQIDAH .....
  • Simak pula penegasan Pembesar Ahlussunnah lainnya berikut ini :

    Ibnu Ruzbahan mengatakan dalam bantahannya terhadap Allamah al-Hilli ra., "Ketahuilah bahwa Imamah menurut kelompok Al Asy'ariyah bukan termasuk Ushuludiyanaat dan dasar akidah, akan tetapi ia menurut mereka adalah termasuk furuu' yang berkaitan dengan tindakan kaum mukallaf." (Ibthaal Nahjil Bathil (lihat: Dala'il ash Shidq,2\8)

    Dan yang perlu ditekankan di sini bahwa kendati imamah dalam pandangan Ahlusunnah bukan termasuk ushuluddin, namun para Ulama Sunny tetap menekankan pentingnya keimanan terhadap keimamahan (kepemimpinan) para Khulafa' bahkan terhadap keyakinan urutan keutamaan mereka sesuai dengan urutan masa kepemimpinan mereka, dan mereka menjadikannya sebagai bagian yang penting dalam keyakinan Ahlusunnah menyangkut perkara ibadah dan muamalat furuiyyah ....

    Imam Ahmad bin Hambal (W:241H) berkata menjelaskan akidah Ahlusunnah, "Sebaik-baik umat ini setelah Nabi kita saw. adalah Abu Bakar, dan sebaik-baik setelah Abu Bakar adalah Umar, dan sebaik-baik setekah Umar adalah Utsman, dan sebaik-baik setelah Utsman adalah Ali, semoga Allah meridhai mereka. Mereka adalah para Khulafa' yang Rasyiduun dan mendapat petunjuk." ( Abhâts Fi al-Milal wa an-Nihal :1\255 menukil dari Kitab as-Sunnah karya Ahmad bin Hambal )

    Abu Ja'far Ath Thahawi Al Hanafi (W:321H) berkata, "Dan kami menetapkan Khilafah setelah Nabi saw. untuk Abu Bakar ash Shiddiq -sebagai pengutamaan atas seluruh umat kemudian untuk Umar ra. kemudian untuk Utsman ra. kemudian untuk Ali ra." ( Abhâts Fi al-Milal wa an-Nihal :1\255 Menukil dari Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah :478-488 )

    Abu Al Hasan Al Asy'ariy (W:330H) berkata, "Dan mereka mengakui bahwa mereka (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali_ pen.) adalah Khulafa' Rasyiduun Mahdiyyuun semulia-mulia manusia setelah Nabi saw." ( ath-Thahawiyah :478-488 ) .

  • Jadi begini Hening Swara ...

    Sebagaimana saya sarankan di muka, sebaiknya sebelum anda menyimpulkan perkataan Al-Ghazaly yg anda kutip itu, anda perlu menyimak dulu penegasan Al-Ghazaly dlm Kitab yang sama berikut ini :

    ونقول : نظام أمر الدين مقصود لصاحب الشرع عليه السلام قطعاً ، وهذه مقدمة قطعية لا يتصور النزاع فيها ، ونضيف إليها مقدمة أخرى وهو أنه لا يحصل نظام الدين إلا بإمام مطاع فيحصل من المقدمتين صحة الدعوى وهو وجوب نصب الإمام . فإن قيل : المقدمة الأخيرة غير مسلمة وهو أن نظام الدين لا يحصل إلا بإمام مطاع ، فدلوا عليها . فنقول : البرهان عيه أن نظام الدين لا يحصل إلا بنظام الدنيا ، ونظام الدنيا لا يحصل إلا بإمام مطاع » . (الاقتصاد في الاعتقاد لأبي حامد الغزالي ج: 1 ص: 75

    " Kita (kaum Ahlusunnah) berkata : pengaturan urusan agama merupakan esensi yg dikehendaki secara pasti oleh Sang Pengemban Syariat Nabi Muhammad SAW, dimana ini merupakan ketetapan dasar yang tidak diperselisihkan lagi, dan kita kemudian menyandarkan kepada ketetapan dasar tadi sebuah dasar lanjutan yaitu bahwasanya pengaturan urusan agama tidak akan pernah berhasil tanpa keberadaan Imam ( Khalifah ) yang ditaati , maka dari kedua penetapan mendasar tadi lahirlah kesimpulan yang benar yaitu hukum wajibnya mengangkat Imam ( Khalifah ) !
    Jika kemudian dipersangsikan : Penetapan mendasar kedua ( pengaturan urusan agama tidak akan pernah berhasil tanpa keberadaan Imam ) tidak bisa diterima dengan memajukan dalil-2 , maka kita menjawab : Dalil yang kuat ttg perkara itu adalah bhws pengaturan urusan agama tidak akan berhasil tanpa pengaturan urusan dunia, dimana pengaturan urusan dunia pun takkan berhasil tanpa adanya Imam yang ditaati ! " ( Al-Iqtishâd fî Al-I’tiqâd 1/75 )

    Nach, nyata sudah bhws Hujjatul Islam Al-Ghazaly senantiasa menegaskan pentingnya keberadaan Imamah demi ketegakan dan keterlangsungan urusan agama ....

    Bahkan ditegaskan oleh beliau dalam Kitab Al-Wasith :

    القضاء والقيام بمصالح المسلمين والإنتصاف للمظلومين من أفضل القربات وهو من فروض الكفايات وهو أفضل من الجهاد وأهم منه لأن الجهاد لطلب الزيادة والقضاء لحفظ الموجود . (الوسيط – ج 7 / ص 287

    " Perkara Qadha ( Hukum Pengadilam Islam ), Menjaga kemaslahatan muslimin, berkeadilan thd mereka yg teraniaya merupakan seutama-2 ibadah dimana hal itu merupakan FARDHU KIFAYAH , bahkan lebih utama dari jihad dan lebih penting darinya, karena Jihad ditujukan utk memperoleh nilai tambah sedangkan Qadha' bertujuan utk menjaga kemaslahatan yg telah ada " ( Al-Wasith 7/287 ) ..

    Kita tahu bhw perkara Qadha ( Hukum Pengadilam Islam ), menjaga dan melindungi kemaslahatan muslimin serta berkeadilan thd mereka yg teraniaya hanya bisa dilaksanakan dengan baik oleh sebuah pemerintahan Islam, maka sudah barang tentu hukum fardhu kifayah yang berkaitan dgn pelaksanaan kesemua urusan tsb dipikulkan kepada kaum muslimin utk mewujudkan sebuah Imamah atau Khilafah Islamiyyah .....

    Inilah kenyataan sebenarnya dari seorang Al-Ghazaly yg tak patut dipungkiri atau dikaburkan dgn distorsi-2 pemahaman atas perkataan beliau sendiri !

    • Hening Swara catatan singkat
      1. Imamah dalam kajian jelas ini tidak sama dengan khilafah kan? Karena imamah bicara kepemimpinan sementara khilafah terkait suksesi kepemimpinan, bukan dlm arti daulah spt ilusi sekte khilafah. Sehingga penulisan imam (khalifah) dan imamah (khilafah) adalah penyesatan opini yang mencoba menggiring pd pemahaman yg menyesatkan. Kalau pun dianggap mutaradif, maka itu sebatas imamah dan khilafah dalam arti kepemimpinan dan suksesi. Dari akar katanya sj bisa dilacak, Imam amama (di depan) sementara khalfu (di belakang), kalau dikatakan di depan = di belakang, gak taulah apa sebutan yg tepat buat orang yg berfikir sungsang spt itu kiki

      2. Al Ghazali memang tidak menolak imamah kok, tp juga tidak mengatakan nashbul imam = iqamatul khilafah dalam arti iqamatud daulah spt igauan dan kedustaan sekte ini, demikian pula imam2 ahlus sunnah lainnya. Kembali mengutip Ibnu Taimiyah, bahwa menganggap imamah is everything adalah kedustaan bahkan kekufuran. Ini terjadi pd sekte syiah maupun sekte khilafah kiki

      3. Imamah memang masalah furu’, amat sangat jelas. Tinggal bagaimana di tataran praktisnya. Sekte khilafah menjadikannya sbg masalah ushul bahkan pd kasus tertentu menjadikannya berhala sesembahan baru, menjadikannya wirid siang malam. Menjadikannya pembeda antara iman dan kafir. In short, kaanna al farqu bainal iman wal kufri tarkul khilafah, wa man tarakaha faqad kafar. Wa man yakfur bit thaghut wa yu’min bil khilafah… Iya kan? Jika kaum syiah (rafidhah) terpeleset dlm masalah imamah & khilafah (kepemimpinan & suksesi) pasca Rasulullah SAW hingga mengkafirkan hampir seluruh sahabat, maka sekte khilafah tersesat karena mempertuhankan cara dan tujuan untuk meraih kekuasaan dengan mudah mengkafirkan pihak2 yang memperoleh kekuasaan tidak sesuai dengan selera sektenya. Wal hasil, tdk ada yg salah dengan kesimpulan al Ghazali bahwa hal ini akan berujung pd fanatisme buta dan bagi para new comer lebih selamat menghindarinya, bukan malah mencekoki para ababil dgn topik ini kiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar